Faktor-Faktor Yang Berhubungan dengan Peningkatan Tinggi Badan Balita Stunting Setelah Pemberian PKMK (Pangan Olahan Untuk Keperluan Medis Khusus) Di Puskesmas Ambal 2 oleh dr Ivandi Anugrah Anggara Putra
Faktor-Faktor Yang Berhubungan dengan Peningkatan Tinggi Badan Balita Stunting Setelah Pemberian PKMK (Pangan Olahan Untuk Keperluan Medis Khusus) Di Puskesmas Ambal 2 oleh dr Ivandi Anugrah Anggara Putra
Faktor-Faktor Yang Berhubungan dengan Peningkatan Tinggi Badan Balita Stunting Setelah Pemberian PKMK (Pangan Olahan Untuk Keperluan Medis Khusus) Di Puskesmas Ambal 2
dr Ivandi Anugrah Anggara Putra
Peserta Program Internsip Dokter Indonesia Angkatan III Tahun 2025, Kebumen, Indonesia
Abstrak
Latar Belakang: Stunting merupakan masalah gizi kronis yang masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat di Indonesia. Salah satu intervensi yang dilakukan untuk memperbaiki pertumbuhan balita stunting adalah pemberian Pangan Olahan untuk Keperluan Medis Khusus (PKMK). Namun, respon pertumbuhan linear setelah pemberian PKMK tidak selalu optimal pada semua balita. Oleh karena itu, perlu dilakukan kajian mengenai faktor-faktor yang berhubungan dengan peningkatan tinggi badan balita stunting setelah intervensi tersebut.
Metode: Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan potong lintang yang dilaksanakan di wilayah kerja Puskesmas Ambal 2 pada Januari 2026. Sampel penelitian berjumlah 19 balita stunting usia 6–59 bulan yang menerima program PKMK dengan teknik total sampling. Variabel dependen adalah peningkatan tinggi badan selama periode pemantauan empat bulan yang dikategorikan menjadi ≤3 cm dan >3 cm. Variabel independen meliputi asupan gizi, penyakit infeksi, kondisi lingkungan dan sanitasi, status sosial ekonomi keluarga, kepatuhan pemberian PKMK, serta perilaku merokok dalam keluarga. Analisis data dilakukan menggunakan uji Fisher Exact dengan tingkat kemaknaan 0,05.
Hasil: Sebanyak 52,6% balita menunjukkan peningkatan tinggi badan ≤3 cm dan 47,4% mengalami peningkatan >3 cm. Analisis bivariat menunjukkan bahwa status sosial ekonomi keluarga berhubungan secara signifikan dengan peningkatan tinggi badan balita stunting (p = 0,033). Sementara itu, asupan gizi, penyakit infeksi, kondisi lingkungan dan sanitasi, kepatuhan pemberian PKMK, serta perilaku merokok dalam keluarga tidak menunjukkan hubungan yang bermakna secara statistik (p > 0,05).
Kesimpulan: Status sosial ekonomi keluarga merupakan faktor yang berhubungan dengan peningkatan tinggi badan balita stunting setelah pemberian PKMK. Upaya penanggulangan stunting perlu mempertimbangkan pendekatan yang lebih komprehensif, tidak hanya melalui intervensi gizi, tetapi juga melalui perbaikan kondisi sosial ekonomi keluarga.
Kata kunci: stunting, peningkatan tinggi badan, PKMK, balita, sosial ekonomi
